Menurut Yustinus Kesaryanto, hasil penelitian ahli dari Papuan Agriculture Develompent Alliance (PADA), sebuah lembaga yang didirikan untuk mengembangkan perkebunan di Papua, kopi yang dalam kemasannya disebut dengan Mapiha Mountain itu termasuk jenis oldbryd. “Kopi ini tergolong kopi asli yang tumbuh di alamnya sendiri, Mapiha, tanpa ada proses penanaman atau perkawinan silang dari jenis kopi daerah lain,” ungkap Kesaryanto.
Berdasarkan penelitian PADA, papar Kesaryanto, kopi mapiha sejenis dengan kopi di Etiopia, yaitu arabika yemeni. Ciri daunnya bewarna kekuningan seperti terkena fungus (jamur) dan cabangnya berjuntai pendek. Buahnya tidak lebat tapi kaya rasa.
Wahyu, pendamping Program Pelatihan Perkebunan dan Pertanian mengatakan, kopi mapiha memiliki rasa antara lain dark chocolate, bitter dan moka, tetapi rasa dominan adalah sweet chocolate.
“Cita rasa itu dijaga sedemikian rupa dengan cara menyangrainya secara manual untuk memperoleh kematangan yang rata. Saat digiling pun, prosesnya dilakukan secara manual, tanpa mesin,” jelas Wahyu.
Kualitas kopi tersebut kian prima karena sejak awal sama sekali tak tersentuh pupuk kimia apa pun. Kawasan Mapiha di Pegunungan Tengah Papua membuat kopi kian terisolir dari jamahan pestisida.
Kompas, Rabu, 4 April 2012